Gempa Sukabumi Diduga Picu Longsor di Tasikmalaya, Dua Hektare Sawah Tertimbun Material Tanah

Lensa Nuansa

Portal Berita Indonesia

lensanuansa.com
Gempa Sukabumi Diduga Picu Longsor di Tasikmalaya, Dua Hektare Sawah Tertimbun Material Tanah
Nasional

Gempa Sukabumi Diduga Picu Longsor di Tasikmalaya, Dua Hektare Sawah Tertimbun Material Tanah

Devi Sry Atmaja · 20 Juli 2026 · 21.18 WIB · 2 dibaca

Bencana tanah longsor melanda kawasan persawahan di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Senin (20/7/2026). Peristiwa yang sempat terekam kamera warga tersebut menyebabkan sedikitnya dua hektare lahan pertanian tertutup material tanah dan tidak dapat digunakan sementara waktu. Longsoran terjadi secara tiba-tiba hingga membuat warga sekitar panik. Material tanah bergerak dan menimbun area persawahan yang sebelumnya masih aktif digunakan oleh para petani untuk bercocok tanam. Meski menyebabkan kerusakan cukup luas pada sektor pertanian, bencana tersebut dipastikan tidak menimbulkan korban jiwa. Kondisi ini menjadi perhatian karena hanya beberapa jam sebelum longsor terjadi, puluhan petani masih beraktivitas menggarap sawah di lokasi tersebut.

Kapolsek Salawu, AKP H. Dedi Darsono, menyebut pergerakan tanah diduga terjadi setelah gempa bumi yang mengguncang wilayah Sukabumi. Getaran gempa diduga memicu perubahan kondisi tanah di kawasan yang memiliki karakteristik rawan longsor.

"Ya longsor setelah gempa terjadi di Sukabumi," kata Dedi Darsono.

Berdasarkan data teknis, gempa yang terjadi berpusat di wilayah barat daya Kabupaten Sukabumi dengan kedalaman sekitar 23 kilometer. Meski demikian, pihak terkait masih melakukan kajian lebih lanjut untuk memastikan hubungan antara aktivitas gempa dan longsor yang terjadi di Tasikmalaya.

Akibat kejadian tersebut, lahan pertanian milik Dodo (60) dan sejumlah warga Kampung Naga mengalami kerusakan cukup parah. Area sawah yang tertimbun material tanah membuat para petani kehilangan kesempatan untuk melanjutkan masa tanam. Kepala Wilayah (Kawil) Kampung Naga, Otoy, mengatakan para petani mengalami kerugian materiil yang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Kerugian tersebut mencakup lahan yang rusak, biaya pengolahan sawah, serta potensi hasil panen yang hilang. Para petani kini harus menunggu kondisi lahan kembali aman sebelum dapat melakukan aktivitas pertanian seperti sebelumnya.

Pasca kejadian, aparat bersama pemerintah daerah mulai melakukan pendataan terhadap wilayah terdampak. Langkah penanganan juga dilakukan untuk memastikan keselamatan warga serta mengantisipasi kemungkinan terjadinya longsor susulan. Masyarakat di sekitar lokasi diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama mengingat kondisi cuaca dan karakter wilayah yang memiliki potensi pergerakan tanah. Petugas juga mengimbau warga untuk segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda pergerakan tanah, seperti retakan baru pada permukaan tanah, perubahan aliran air, atau suara gemuruh dari area perbukitan. Bencana longsor di Salawu menjadi pengingat bahwa wilayah rawan bencana membutuhkan kesiapsiagaan tinggi, terutama setelah terjadi aktivitas geologi seperti gempa bumi.

Tag
Memuat tag...