Harga Bumbu Dapur dan Sayuran Anjlok, Petani Tertekan di Tengah Libur Sekolah dan Penghentian Sementara Program MBG

Lensa Nuansa

Portal Berita Indonesia

lensanuansa.com
Harga Bumbu Dapur dan Sayuran Anjlok, Petani Tertekan di Tengah Libur Sekolah dan Penghentian Sementara Program MBG
Nasional

Harga Bumbu Dapur dan Sayuran Anjlok, Petani Tertekan di Tengah Libur Sekolah dan Penghentian Sementara Program MBG

Devi Sry Atmaja · 03 Juli 2026 · 17.21 WIB · 2 dibaca

JAKARTA – Harga sejumlah komoditas hortikultura, mulai dari cabai, tomat, bawang hingga berbagai jenis sayuran, mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut membuat banyak petani mengeluhkan merosotnya pendapatan karena hasil panen dijual jauh di bawah harga yang diharapkan.

Penurunan harga terjadi bertepatan dengan masa libur sekolah, saat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan sementara. Sejumlah pelaku usaha dan petani menilai berkurangnya aktivitas konsumsi dari sekolah serta melambatnya permintaan pasar menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penyerapan hasil panen. Namun demikian, hingga kini belum ada data resmi yang menyimpulkan bahwa penghentian sementara program MBG menjadi penyebab langsung turunnya harga komoditas hortikultura.

Selain faktor permintaan, melimpahnya pasokan dari sentra-sentra produksi juga turut memberikan tekanan terhadap harga di tingkat petani. Ketika panen raya terjadi secara bersamaan sementara daya serap pasar tidak meningkat secara signifikan, harga komoditas cenderung mengalami penurunan.

Beberapa komoditas yang dilaporkan mengalami penurunan harga antara lain cabai merah, cabai rawit, tomat, kubis, sawi, hingga berbagai jenis sayuran hijau. Di sejumlah daerah, harga jual di tingkat petani bahkan disebut belum mampu menutup biaya produksi, mulai dari pembelian benih, pupuk, perawatan hingga biaya distribusi.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petani hortikultura yang selama ini sangat bergantung pada stabilitas permintaan pasar. Ketika harga jatuh dalam waktu singkat, keuntungan yang diharapkan berubah menjadi kerugian, bahkan tidak sedikit petani yang memilih menjual hasil panen dengan harga minim agar produk tidak membusuk.

Di sisi lain, konsumen justru merasakan dampak positif dari turunnya harga pangan segar. Harga sayuran dan bumbu dapur yang lebih murah membuat pengeluaran rumah tangga menjadi lebih ringan, terutama di tengah masih tingginya biaya kebutuhan pokok lainnya.

Pengamat pertanian menilai fluktuasi harga komoditas hortikultura merupakan persoalan yang terus berulang setiap musim panen. Ketergantungan pada mekanisme pasar, terbatasnya fasilitas penyimpanan hasil panen, serta belum optimalnya sistem distribusi menjadi faktor yang membuat harga mudah bergejolak.

Karena itu, diperlukan langkah antisipatif agar harga di tingkat petani tetap terjaga tanpa membebani konsumen. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penguatan rantai pasok, peningkatan kapasitas penyimpanan hasil panen, perluasan akses pasar, hingga optimalisasi penyerapan komoditas oleh pemerintah maupun sektor swasta.

Sementara itu, masyarakat dan pelaku usaha masih menantikan kepastian mengenai jadwal dimulainya kembali Program Makan Bergizi Gratis setelah masa libur sekolah berakhir. Program tersebut diharapkan kembali berjalan sehingga dapat memberikan manfaat tidak hanya bagi pemenuhan gizi peserta didik, tetapi juga membuka peluang penyerapan hasil pertanian dari dalam negeri.

Ke depan, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani dinilai menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara produksi dan permintaan. Dengan demikian, harga pangan dapat tetap stabil, kesejahteraan petani terjaga, dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi secara berkelanjutan.

Tag
Memuat tag...