Karhutla Indonesia Makin Mengkhawatirkan, 190.546 Hektar Hutan dan Lahan Terbakar hingga Juni 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah Indonesia hingga Selasa (25/8/2026). Ancaman tersebut semakin mengkhawatirkan karena musim kemarau ekstrem diperkirakan masih berlangsung hingga September, bahkan di sejumlah daerah dapat berlanjut hingga awal 2027.
Data Map Biomass Fire Monthly 2026 yang dirilis Senin menunjukkan luas hutan dan lahan yang terbakar di Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai 178.232 hektar. Angka tersebut belum memperhitungkan area yang mengalami kebakaran berulang.
Jika area yang terbakar berulang dihitung secara bulanan, total luas area terdampak mencapai 190.546 hektar. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan karhutla bukan hanya berkaitan dengan luas wilayah yang terbakar, tetapi juga kemampuan untuk mencegah api kembali muncul di kawasan yang sebelumnya telah terdampak.
Sebaran kebakaran juga tidak merata. Kalimantan menjadi wilayah dengan kontribusi terbesar, yakni 21,13 persen dari total area terbakar. Berikutnya Bali dan Nusa Tenggara sebesar 18,7 persen, Papua 14,56 persen, Sumatera 14,14 persen, Sulawesi 13 persen, Jawa 11,7 persen, dan Maluku 6,69 persen.
Besarnya porsi Kalimantan menunjukkan tekanan yang masih tinggi terhadap kawasan hutan dan lahan di pulau tersebut. Pada saat yang sama, wilayah lain seperti Bali dan Nusa Tenggara juga menghadapi risiko yang signifikan, terutama ketika kondisi kering membuat vegetasi lebih mudah terbakar.
Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan adalah keterlibatan lahan gambut dalam kebakaran. Sekitar 22 persen dari total area yang terbakar berada di lahan gambut. Di Kalimantan dan Sumatera, proporsinya bahkan mendekati 90 persen.
Kebakaran di lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran di lahan mineral. Api dapat menjalar dan bertahan di bawah permukaan, sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit dan membutuhkan penanganan yang lebih intensif.
Kondisi gambut yang mengering selama periode kemarau juga meningkatkan kerentanannya terhadap kebakaran. Ketika api sudah masuk ke lapisan gambut, pemadaman tidak cukup hanya dilakukan dengan mengatasi api yang terlihat di permukaan karena bara dapat tetap bertahan di bawah tanah.
Dampak karhutla juga tidak berhenti pada kerusakan lahan. Dari keseluruhan area yang terbakar, sekitar 46 persen atau 82.662 hektar berada di kawasan hutan.
Lebih memprihatinkan lagi, sekitar 11.442 hektar area yang terbakar merupakan habitat satwa yang dilindungi. Kebakaran di kawasan tersebut berpotensi merusak tempat hidup satwa, mengurangi ketersediaan makanan, serta memaksa satwa berpindah ke wilayah lain yang belum tentu aman.
Kerusakan habitat dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap keanekaragaman hayati. Ketika kawasan hutan kehilangan tutupan vegetasinya, proses pemulihan ekosistem dapat berlangsung bertahun-tahun, bahkan lebih lama tergantung tingkat kerusakan dan kondisi lingkungan.
Kabut asap yang menyertai karhutla juga menjadi ancaman langsung bagi masyarakat. Kualitas udara dapat menurun ketika kebakaran berlangsung dalam skala besar, terutama di wilayah yang berdekatan dengan sumber api atau berada di jalur pergerakan asap.
Situasi tersebut dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga dengan kondisi kesehatan tertentu.
Ancaman karhutla diperkirakan belum akan segera berakhir. Perkiraan berlangsungnya kemarau ekstrem hingga September membuat pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu memperkuat kesiapsiagaan dalam beberapa pekan ke depan.
Bahkan di sejumlah wilayah, kondisi kering dapat berlanjut hingga awal 2027. Artinya, penanganan karhutla membutuhkan strategi yang tidak hanya berorientasi pada pemadaman ketika api muncul, tetapi juga pencegahan dan pengelolaan lahan dalam jangka panjang.
Pemantauan titik panas, patroli kawasan rawan, kesiapan personel, pengelolaan lahan gambut, hingga penegakan hukum terhadap pembakaran lahan perlu dilakukan secara bersamaan. Setiap titik api harus ditangani sedini mungkin agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Penguatan pemadaman melalui jalur darat dan udara juga menjadi penting ketika api sudah menyebar di wilayah yang sulit dijangkau. Namun, keberhasilan pemadaman sangat bergantung pada kondisi cuaca, ketersediaan sumber air, akses menuju lokasi kebakaran, serta kemampuan mempertahankan kawasan agar tidak kembali terbakar.
Data luas kebakaran yang mencapai lebih dari 190.000 hektar menjadi pengingat bahwa karhutla merupakan persoalan lingkungan sekaligus persoalan sosial dan ekonomi. Kerusakan hutan, hilangnya habitat satwa, ancaman terhadap kesehatan, serta terganggunya aktivitas masyarakat merupakan dampak yang saling berkaitan.
Dengan musim kemarau yang masih berlangsung, momentum untuk memperkuat pencegahan tidak boleh dilewatkan. Penanganan yang cepat, terkoordinasi, dan konsisten diperlukan agar kebakaran tidak semakin meluas dan kerusakan lingkungan tidak semakin sulit dipulihkan.
Karhutla 2026 pada akhirnya bukan sekadar persoalan berapa luas lahan yang terbakar. Angka 190.546 hektar menggambarkan besarnya tekanan terhadap ekosistem Indonesia sekaligus menunjukkan urgensi memperkuat perlindungan hutan, lahan gambut, dan masyarakat dari ancaman kebakaran yang terus berulang.