Karhutla Kaldera Bromo Meluas, 120 Hektare Kawasan TNBTS Terdampak dan Pemadaman Gunakan Helikopter Water Bombing

Lensa Nuansa

Portal Berita Indonesia

lensanuansa.com
Karhutla Kaldera Bromo Meluas, 120 Hektare Kawasan TNBTS Terdampak dan Pemadaman Gunakan Helikopter Water Bombing
Nasional

Karhutla Kaldera Bromo Meluas, 120 Hektare Kawasan TNBTS Terdampak dan Pemadaman Gunakan Helikopter Water Bombing

Devi Sry Atmaja · 07 Agustus 2026 · 15.25 WIB · 3 dibaca

Malang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Kaldera Bromo di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus menjadi perhatian. Hingga kini, luas area yang terdampak kobaran api diperkirakan telah mencapai sekitar 120 hektare. Petugas gabungan masih berupaya mengendalikan kebakaran yang terjadi di kawasan pegunungan tersebut. Namun, kondisi medan yang curam, berupa lereng dan tebing dengan akses terbatas, membuat proses pemadaman melalui jalur darat menghadapi berbagai kendala.

Untuk mempercepat penanganan, tim gabungan mengandalkan bantuan helikopter water bombing guna menjangkau titik api yang sulit didatangi petugas di lapangan. Helikopter tersebut disiapkan untuk melakukan penyiraman air dari udara ke area yang masih terbakar. Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, helikopter untuk operasi water bombing telah berada di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang. Operasi pemadaman dari udara direncanakan mulai dilakukan untuk membantu memadamkan titik api yang berada di kawasan lereng tebing.

"Masih ada beberapa titik api yang belum padam. Heli water bombing sudah persiapan di Bandara Malang," ujar Rudijanta saat dikonfirmasi, Jumat (7/8/2026) pagi.

Menurut Rudijanta, penggunaan helikopter menjadi langkah strategis karena sejumlah titik kebakaran berada di lokasi yang sulit dijangkau oleh personel pemadam. Dengan metode water bombing, air dapat dijatuhkan langsung ke area yang terbakar sehingga diharapkan mampu mempercepat proses pendinginan dan mencegah api kembali membesar. Selain operasi udara, petugas gabungan dari Balai Besar TNBTS, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, TNI, Polri, serta relawan masih melakukan pemadaman secara manual di sejumlah titik yang dapat dijangkau.

Kondisi cuaca kering selama musim kemarau serta karakteristik vegetasi di kawasan TNBTS menjadi faktor yang membuat api mudah menyebar. Angin di kawasan pegunungan juga menjadi tantangan karena dapat mempercepat pergerakan kobaran api ke wilayah lain. Pihak TNBTS terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik api dan memastikan upaya penanganan dilakukan secara maksimal untuk mencegah kerusakan yang lebih luas terhadap kawasan konservasi tersebut.

Masyarakat dan wisatawan juga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di kawasan taman nasional. Larangan menyalakan api sembarangan dan membuang puntung rokok di area hutan terus disosialisasikan guna mencegah munculnya titik api baru. Hingga saat ini, petugas masih berjibaku melakukan pemadaman dan pengendalian karhutla. Pemerintah memastikan operasi penanganan akan terus dilakukan sampai seluruh titik api berhasil dipadamkan dan kondisi kawasan dinyatakan aman.

Tag
Memuat tag...