Karhutla Meluas, Kabut Asap Mulai Selimuti Sejumlah Daerah di Tengah Ancaman El Nino Super
Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia terus meluas seiring datangnya puncak musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat jumlah total titik panas (hotspot) di seluruh wilayah Indonesia mencapai 2.919 titik pada Selasa (4/8/2026). Konsentrasi titik panas terbesar terpantau di sejumlah wilayah langganan karhutla, seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau, Papua Selatan, dan Aceh.
Merespons kondisi tersebut, sejumlah pemerintah daerah pun bergerak cepat dengan menetapkan status siaga darurat bencana asap. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat misalnya, telah memperpanjang status siaga darurat hingga 15 November 2026 menyusul temuan ratusan titik panas yang tersebar di 12 kabupaten. Sementara itu, di Kalimantan Tengah, kabut asap dilaporkan mulai menyelimuti Kota Sampit, dengan luas lahan terbakar yang tercatat sudah mencapai ratusan hektare dan berpotensi terus bertambah selama musim kemarau berlangsung.
Dampak karhutla tahun ini juga merambah ke sektor pariwisata. Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Jawa Timur, salah satu destinasi favorit wisatawan, terpaksa menutup sebagian akses masuknya sejak Senin (3/8/2026) malam menyusul kebakaran hebat yang melalap Blok Bantengan. Api bahkan sempat merambat mendekati kawasan Savana atau Bukit Teletubbies yang menjadi ikon wisata Bromo. Hingga awal pekan ini, luas lahan yang terdampak diperkirakan sudah mencapai puluhan hektare, memaksa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan helikopter water bombing serta menyiapkan operasi modifikasi cuaca untuk membantu proses pemadaman.
Di tengah situasi ini, sejumlah peneliti cuaca, iklim, dan meteorologi mewanti-wanti bahwa fenomena El Nino super yang tengah berlangsung sepanjang 2026 berpotensi memperparah eskalasi karhutla dibandingkan tahun-tahun El Nino sebelumnya. BMKG bahkan mencatat laju peningkatan jumlah titik panas tahun ini jauh lebih cepat ketimbang periode El Nino pada 2015, 2019, maupun 2023—tiga tahun yang selama ini dikenal sebagai periode kebakaran hutan terparah di Indonesia.
Para ahli menegaskan bahwa periode Juli hingga akhir September 2026 merupakan bulan-bulan paling kritis yang memerlukan kewaspadaan ekstra dari seluruh pemangku kepentingan. Risiko karhutla diperkirakan akan terus meningkat secara gradual, bahkan berpotensi merembet ke wilayah Sulawesi pada rentang September hingga Oktober mendatang seiring meluasnya dampak kekeringan akibat El Nino.
Dengan puncak musim kemarau yang baru saja dimulai, ancaman karhutla dan kabut asap dikhawatirkan akan terus membayangi berbagai wilayah di Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Pemerintah pusat dan daerah kini dituntut untuk terus memperkuat sinergi lintas sektor—mulai dari pemadaman di lapangan, patroli udara dan darat, hingga edukasi kepada masyarakat—guna mencegah bencana ini meluas lebih jauh dan berdampak lebih serius bagi kesehatan, lingkungan, maupun sektor perekonomian, termasuk pariwisata.