Ketua DPD Ungkap Julukan 7 Presiden RI: Soekarno Bapak Proklamator hingga Jokowi Bapak Infrastruktur

Lensa Nuansa

Portal Berita Indonesia

lensanuansa.com
Ketua DPD Ungkap Julukan 7 Presiden RI: Soekarno Bapak Proklamator hingga Jokowi Bapak Infrastruktur
Nasional

Ketua DPD Ungkap Julukan 7 Presiden RI: Soekarno Bapak Proklamator hingga Jokowi Bapak Infrastruktur

Rizqi Akbar Sadly · 14 Agustus 2026 · 20.32 WIB · 2 dibaca

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Sultan Bachtiar Najamudin, mengungkap julukan kehormatan yang melekat pada tujuh presiden Indonesia dari masa ke masa dalam pidatonya di Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI sekaligus Sidang Bersama MPR-DPR-DPD 2026. Pidato tersebut disampaikan Sultan di hadapan seluruh anggota parlemen dan tamu undangan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Dalam orasinya yang disambut tepuk tangan riuh dari peserta sidang, Sultan mengajak seluruh hadirin untuk memberikan penghormatan kepada para pemimpin bangsa yang telah menorehkan sejarah masing-masing sejak era kemerdekaan hingga kini.

Sultan menegaskan bahwa setiap presiden Republik Indonesia merupakan negarawan dengan capaian nyata pada periode kepemimpinannya masing-masing, sehingga layak diberikan pengakuan atas kontribusi historis yang telah mereka torehkan bagi bangsa. "Setiap presiden republik ini adalah negarawan dengan capaian nyata pada masanya masing-masing," kata Sultan dalam pidatonya. Pernyataan ini menjadi pengantar sebelum ia secara berurutan merinci julukan yang disematkan kepada masing-masing kepala negara, dimulai dari Presiden pertama Republik Indonesia hingga Presiden ketujuh yang menjabat sebelum era pemerintahan saat ini.

Sultan mengawali pemaparannya dengan menyebut Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, sebagai Bapak Proklamator, mengingat perannya yang begitu monumental dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. "Presiden Sukarno Bapak Proklamator," kata Sultan dengan tegas, yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta sidang dan tamu undangan yang hadir. Julukan tersebut dinilai merepresentasikan peran sentral Soekarno sebagai penggerak utama perjuangan kemerdekaan sekaligus peletak dasar berdirinya negara Republik Indonesia.

Selanjutnya, Sultan menyebut Presiden kedua RI, Soeharto, sebagai Bapak Pembangunan, mengacu pada era kepemimpinannya yang identik dengan pesatnya pembangunan infrastruktur dan perekonomian nasional selama lebih dari tiga dekade. Presiden ketiga RI, B.J. Habibie, dijuluki sebagai Bapak Teknologi, sejalan dengan reputasinya sebagai ilmuwan dan insinyur penerbangan terkemuka yang membawa Indonesia ke gerbang kemajuan teknologi dirgantara. Sementara itu, Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, disematkan julukan Bapak Pluralisme, sebagai bentuk pengakuan atas jasa-jasanya dalam merawat keberagaman dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.

Sultan kemudian melanjutkan pemaparannya dengan menyebut Presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri, sebagai Srikandi Konstitusi, mengacu pada peran pentingnya sebagai presiden perempuan pertama Indonesia sekaligus kontribusinya dalam penguatan tatanan konstitusional pascareformasi. "Presiden Megawati Soekarnoputri Srikandi Konstitusi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Bapak Perdamaian, dan Presiden Joko Widodo Bapak Infrastruktur," ucap Sultan melanjutkan pidatonya. Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono, dijuluki Bapak Perdamaian sehubungan dengan berbagai capaiannya dalam penyelesaian konflik domestik maupun diplomasi internasional, sementara Presiden ketujuh RI, Joko Widodo, disebut sebagai Bapak Infrastruktur mengacu pada masifnya pembangunan infrastruktur fisik selama dua periode masa jabatannya.

Yang menarik, Sultan tidak menyematkan julukan khusus bagi Presiden Prabowo Subianto yang kini tengah memimpin Indonesia sejak dilantik pada Oktober 2024. Meski demikian, Sultan tetap menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kepemimpinan Prabowo yang telah berjalan hampir dua tahun, khususnya dalam menjaga martabat bangsa dan mendorong kemandirian ekonomi nasional sejalan dengan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Sultan menegaskan bahwa Indonesia kini tengah memasuki babak baru di bawah kepemimpinan Prabowo, dengan satu benang merah yang selalu hadir dalam setiap era kepemimpinan, yakni penguatan daerah dan kedaulatan Indonesia yang terus berkembang dari masa ke masa.

Di penghujung pidatonya, Sultan turut menyampaikan pesan khusus yang ditujukan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. "Terkhusus kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto, teruslah melangkah dengan keberanian dan keyakinan Pak," ujar Sultan mengakhiri pidatonya. Ia menambahkan bahwa kepemimpinan yang senantiasa berpihak kepada rakyat akan selalu mendapat tempat terhormat dalam catatan sejarah bangsa Indonesia. Perlu dicatat, dua mantan presiden yakni Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri tidak dapat hadir dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD RI 2026 tersebut, dengan SBY diketahui tengah menjalani pemeriksaan kesehatan di Amerika Serikat, sementara Megawati memiliki agenda lain yang berbenturan dengan jadwal sidang kenegaraan tersebut.

Pidato bertajuk penghormatan kepada para presiden ini menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian publik dalam rangkaian Sidang Tahunan MPR RI 2026, yang turut dihadiri sejumlah mantan presiden dan wakil presiden lainnya, termasuk Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Pemaparan julukan tujuh presiden ini sekaligus menjadi pengingat kolektif bagi bangsa Indonesia mengenai kontribusi masing-masing kepala negara dalam perjalanan panjang republik ini, sekaligus menegaskan semangat kesinambungan pembangunan yang terus berlanjut dari satu era kepemimpinan ke era berikutnya, menuju cita-cita besar Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Tag
Memuat tag...