Rupiah Kian Tertekan, Sentuh Rp17.772 per Dolar AS di Tengah Gejolak Global

Lensa Nuansa

Portal Berita Indonesia

lensanuansa.com
Rupiah Kian Tertekan, Sentuh Rp17.772 per Dolar AS di Tengah Gejolak Global
Keuangan

Rupiah Kian Tertekan, Sentuh Rp17.772 per Dolar AS di Tengah Gejolak Global

Devi Sry Atmaja · 03 September 2026 · 20.57 WIB · 3 dibaca

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (2/9/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat melemah 28 poin atau 0,16 persen ke level Rp17.772 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 09.06 WIB. Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan yang terus memanas di kawasan tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan permintaan terhadap aset-aset yang dianggap aman (safe haven

Selain faktor geopolitik, penguatan mata uang AS juga didorong oleh naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury. Kondisi ini membuat investor global cenderung mengalihkan dana mereka ke instrumen keuangan berbasis dolar yang dinilai menawarkan tingkat pengembalian lebih menarik. Tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, semakin besar setelah Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh memberikan sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat dalam forum ekonomi tahunan Jackson Hole. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS berpotensi kembali menaikkan suku bunga acuannya pada September 2026.

Kenaikan suku bunga AS biasanya membuat arus modal asing mengalir ke Negeri Paman Sam karena menawarkan keuntungan yang lebih tinggi. Dampaknya, mata uang negara berkembang mengalami tekanan akibat meningkatnya permintaan terhadap dolar AS. Analis menilai kombinasi antara risiko geopolitik, harga energi yang meningkat, serta prospek kebijakan moneter AS yang masih agresif menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Kenaikan harga minyak dunia juga menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi. Kondisi tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap neraca perdagangan dan memperlemah sentimen terhadap rupiah apabila berlangsung dalam jangka panjang. Pelaku pasar memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berlangsung volatil dalam waktu dekat. Mata uang Indonesia diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS seiring investor mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, arah kebijakan The Fed, serta data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat.

Di sisi domestik, pelaku pasar juga menunggu langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi. Intervensi pasar valas dan penguatan instrumen moneter menjadi salah satu faktor yang akan diperhatikan investor dalam menentukan arah investasi ke depan.

Meski tekanan global masih mendominasi, sejumlah ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia yang relatif solid dapat menjadi penopang agar pelemahan rupiah tidak berlangsung lebih dalam. Namun demikian, sentimen global diperkirakan tetap menjadi penentu utama pergerakan pasar keuangan dalam jangka pendek.

Tag
Memuat tag...