Terkendala Abu Anak Krakatau, Katon Bagaskara Terdampar di Jenewa: Etihad Tak Beri Kepastian
JAKARTA — Musisi senior Katon Bagaskara mengaku mengalami situasi sulit setelah perjalanannya menuju Indonesia terganggu akibat penutupan Bandara Internasional Soekarno-Hatta menyusul sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Katon menyebut dirinya kini “terdampar” di Bandara Internasional Cointrin, Jenewa, Swiss, setelah tidak diperbolehkan melakukan check-in oleh Etihad Airways.
Katon mengatakan persoalan tersebut berkaitan dengan dokumen perjalanan dan visa untuk transit di Abu Dhabi. Gangguan penerbangan akibat aktivitas vulkanik membuat rencana perjalanan yang sebelumnya telah disusun berubah, sementara dirinya harus menghadapi konsekuensi administratif dari perubahan rute tersebut.
Dalam situasi itu, Katon mengaku tengah meminta bantuan perwakilan diplomatik Indonesia untuk mencari jalan keluar. Ia menyebut komunikasi telah dilakukan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jenewa maupun KBRI di Abu Dhabi.
“Nah, KBRI lagi dikontak-kontak. KBRI Geneva, maupun KBRI di Abu Dhabi. Semoga ada segera solusi karena Etihad sendiri masih tetap buang badan dan enggak kasih kabar,” ujar Katon.
Persoalan tersebut menjadi semakin pelik karena Katon khawatir keterlambatan perjalanan membuat tiket yang telah dimilikinya hangus. Di sisi lain, masa berlaku visa Swiss juga menjadi perhatian apabila dirinya harus berada lebih lama di negara tersebut sembari menunggu kepastian penerbangan.
Katon pun meminta bantuan masyarakat yang memiliki akses atau koneksi dengan pihak Etihad Airways Indonesia agar persoalan tersebut dapat segera ditangani. Permintaan itu disampaikan karena ia membutuhkan kepastian mengenai keberangkatan berikutnya sekaligus solusi atas kendala transit yang dihadapinya.
Situasi yang dialami Katon merupakan salah satu dampak lanjutan dari terganggunya operasional penerbangan akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Sebaran abu vulkanik dapat menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan sehingga maskapai dan otoritas bandara harus melakukan penyesuaian operasional berdasarkan kondisi udara serta informasi penerbangan yang tersedia.
Penutupan atau pembatasan operasional bandara tidak hanya berdampak kepada penumpang yang berada di Indonesia. Gangguan jaringan penerbangan juga dapat merembet ke penumpang yang sedang berada di luar negeri, terutama mereka yang menggunakan penerbangan lanjutan dengan transit di negara lain.
Dalam kasus Katon, persoalan menjadi lebih kompleks karena perubahan perjalanan bersinggungan dengan persyaratan masuk atau transit di negara yang menjadi titik persinggahan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gangguan penerbangan akibat bencana alam dapat menimbulkan persoalan administratif yang tidak sederhana bagi penumpang.
Katon kini masih menunggu adanya kepastian dari pihak-pihak yang dihubungi. Komunikasi dengan KBRI di Jenewa dan Abu Dhabi diharapkan dapat membantu menemukan solusi agar perjalanan menuju Indonesia dapat kembali dilanjutkan tanpa menimbulkan persoalan baru terkait tiket maupun dokumen keimigrasian.
Di tengah ketidakpastian tersebut, perhatian Katon bukan hanya tertuju pada kapan dirinya dapat kembali melanjutkan penerbangan, tetapi juga bagaimana memastikan seluruh dokumen perjalanan tetap dapat digunakan. Jika masa tinggalnya di Swiss harus diperpanjang, persoalan masa berlaku visa menjadi hal yang perlu segera dipastikan.
Kasus ini sekaligus menggambarkan bagaimana gangguan penerbangan akibat aktivitas gunung api dapat memberikan efek berantai hingga ke perjalanan internasional. Penumpang tidak hanya berhadapan dengan pembatalan atau perubahan jadwal, tetapi juga kemungkinan kehilangan koneksi penerbangan, perubahan rute, persyaratan transit, hingga persoalan masa berlaku dokumen perjalanan.
Bagi Katon Bagaskara, harapannya kini sederhana: ada kepastian dan solusi agar dirinya dapat segera meninggalkan Jenewa dan melanjutkan perjalanan ke Indonesia. Sambil menunggu perkembangan, ia memilih meminta bantuan berbagai pihak agar komunikasi dengan maskapai dapat segera menemukan titik terang.