Wapres Gibran Terpukau Inovasi Mahasiswa UB: Ada Rompi Pintar untuk Bantu Redakan Tantrum Anak Autisme
Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dibuat kagum oleh sejumlah inovasi teknologi kesehatan yang dikembangkan mahasiswa berprestasi Universitas Brawijaya (UB). Beragam karya tersebut dipamerkan dalam pertemuan di Istana Wakil Presiden dan menunjukkan bagaimana kreativitas mahasiswa mulai diarahkan untuk menjawab persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat.
Salah satu inovasi yang paling menarik perhatian adalah ADAPT-V, sebuah rompi pintar yang dirancang untuk membantu mendeteksi sekaligus meredakan kondisi tantrum pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD).
ADAPT-V dikembangkan dengan memanfaatkan sensor pintar yang mampu membaca kondisi tertentu pada pengguna. Ketika sistem mendeteksi tanda-tanda yang berkaitan dengan tantrum, rompi tersebut dirancang memberikan sensasi seperti pelukan melalui mekanisme tekanan otomatis.
Konsep tersebut berangkat dari kebutuhan anak dengan autisme yang pada kondisi tertentu dapat mengalami tantrum akibat rangsangan lingkungan, perubahan situasi, maupun kesulitan dalam mengekspresikan kondisi emosional. Sensasi tekanan atau deep pressure pada tubuh dalam konsep terapi tertentu dapat digunakan sebagai salah satu bentuk dukungan untuk membantu memberikan rasa nyaman.
Dengan pendekatan berbasis teknologi, ADAPT-V mencoba menghadirkan perangkat yang lebih praktis dan dapat memberikan respons secara otomatis ketika tanda-tanda tertentu terdeteksi. Meski demikian, perangkat seperti ini tetap perlu ditempatkan sebagai alat bantu dan bukan pengganti pendampingan maupun penanganan profesional bagi anak dengan ASD.
Perhatian Wapres Gibran tidak hanya tertuju pada ADAPT-V. Mahasiswa UB juga memperkenalkan sejumlah inovasi kesehatan lainnya yang menggabungkan teknologi kecerdasan buatan dan perangkat sensor untuk membantu masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang lebih mudah.
Salah satunya adalah Transaid, teknologi yang dikembangkan untuk membantu mendeteksi permasalahan pada tambalan gigi dengan memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi ini diharapkan dapat membantu proses identifikasi kondisi tambalan gigi secara lebih cepat dan mendukung tenaga kesehatan dalam melakukan pemeriksaan.
Pemanfaatan AI dalam bidang kesehatan sendiri terus berkembang. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk membantu menganalisis citra maupun data medis tertentu, meski hasil yang diberikan sistem tetap membutuhkan interpretasi dan verifikasi tenaga kesehatan sebelum digunakan sebagai dasar diagnosis atau tindakan medis.
Selain Transaid, terdapat pula Vitalsense, perangkat yang dirancang untuk melakukan pemeriksaan sejumlah parameter kesehatan tanpa menggunakan jarum. Kehadiran teknologi semacam ini menawarkan pendekatan pemeriksaan yang lebih praktis, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan pemantauan kondisi kesehatan secara berkala tetapi tidak nyaman dengan prosedur invasif.
Ketiga inovasi tersebut memperlihatkan pendekatan yang berbeda dalam menjawab tantangan kesehatan. ADAPT-V berfokus pada dukungan bagi anak dengan autisme, Transaid mengembangkan pemanfaatan AI untuk membantu pemeriksaan kesehatan gigi, sementara Vitalsense mengusung kemudahan pemantauan sejumlah parameter kesehatan melalui perangkat noninvasif.
Pertemuan tersebut juga memperlihatkan potensi besar mahasiswa perguruan tinggi dalam menghasilkan teknologi yang tidak berhenti pada konsep penelitian, tetapi diarahkan untuk memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.
Kehadiran Wapres Gibran dalam agenda tersebut menjadi bentuk perhatian terhadap pengembangan inovasi yang lahir dari lingkungan kampus. Mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga didorong untuk menciptakan solusi terhadap persoalan nyata yang ada di tengah masyarakat.
Inovasi seperti ADAPT-V menjadi contoh bagaimana teknologi dapat dikembangkan dari kebutuhan yang sangat spesifik. Tantangan dalam mendampingi anak dengan autisme membutuhkan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga mempertimbangkan aspek psikologis, kenyamanan, keamanan, serta kebutuhan individual setiap anak.
Karena itu, perjalanan inovasi kesehatan dari lingkungan kampus menuju penggunaan secara luas masih membutuhkan proses panjang. Pengujian, validasi, aspek keamanan, akurasi sensor, hingga pemenuhan ketentuan regulasi menjadi bagian penting sebelum sebuah perangkat kesehatan dapat digunakan secara luas.
Meski demikian, karya mahasiswa UB tersebut menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Perpaduan antara ilmu kesehatan, teknologi sensor, kecerdasan buatan, dan kreativitas mahasiswa membuka peluang lahirnya berbagai solusi baru di masa depan.
Dari sebuah rompi yang memberikan respons otomatis hingga teknologi AI untuk membantu pemeriksaan gigi dan perangkat pemeriksaan kesehatan tanpa jarum, deretan inovasi tersebut memberikan gambaran bahwa masa depan teknologi kesehatan tidak selalu datang dari laboratorium perusahaan besar.
Sebagian di antaranya justru dapat lahir dari ruang-ruang kampus, dikembangkan oleh mahasiswa, dan berangkat dari persoalan sederhana yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertemuan di Istana Wakil Presiden pun menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa inovasi anak bangsa memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Tantangannya kini bukan hanya menciptakan teknologi baru, tetapi memastikan inovasi tersebut benar-benar aman, akurat, teruji, terjangkau, dan pada akhirnya mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.