3.000 Warga Palembang Gelar Salat Istisqa, Berdoa Hujan Turun di Tengah Kepungan Kabut Asap
Sekitar 3.000 umat Islam di Palembang, Sumatera Selatan, menggelar salat istisqa atau salat meminta hujan pada 25 Agustus 2026. Salat tersebut dilakukan di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah serta kabut asap yang mengganggu kualitas udara.
Pelaksanaan salat istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual masyarakat menghadapi kondisi kemarau dan dampak karhutla. Warga berkumpul untuk berdoa agar hujan segera turun, kebakaran hutan dan lahan dapat dikendalikan, serta kondisi udara kembali normal.
Salah satu peserta, Tony Kurniawan, mengatakan masyarakat berharap karhutla yang terjadi dapat segera berakhir. Menurutnya, turunnya hujan sangat dinantikan karena diharapkan dapat membantu meredakan kebakaran sekaligus membersihkan udara dari kabut asap.
“Kita sama-sama berdoa agar karhutla segera berakhir, hujan segera turun dan udara bisa normal kembali,” kata Tony.
Salat istisqa merupakan ibadah yang secara khusus dilakukan ketika masyarakat menghadapi kondisi kekeringan atau kesulitan mendapatkan hujan. Pelaksanaannya menjadi sarana bagi umat Islam untuk memanjatkan doa dan memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.
Di Palembang, pelaksanaan salat tersebut berlangsung ketika dampak karhutla masih menjadi perhatian masyarakat. Asap akibat kebakaran dapat mengganggu aktivitas warga dan menurunkan kualitas udara, terutama ketika kondisi cuaca kering dan angin tidak cukup kuat untuk menyebarkan asap.
Karhutla juga menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan dari berbagai sisi. Selain upaya pemadaman oleh pemerintah dan petugas di lapangan, pencegahan munculnya titik api serta pengawasan terhadap aktivitas pembakaran lahan menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran meluas.
Harapan agar hujan segera turun tidak hanya disampaikan masyarakat Palembang. Salat istisqa juga dilakukan di sejumlah wilayah lain yang turut menghadapi persoalan karhutla dan kondisi cuaca kering.
Pelaksanaan salat minta hujan tercatat berlangsung di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Di wilayah-wilayah tersebut, masyarakat juga berharap hujan dapat membantu mengurangi dampak kebakaran serta memperbaiki kondisi udara.
Bagi masyarakat yang terdampak kabut asap, hujan memiliki arti penting karena air hujan dapat membantu membasahi lahan yang kering dan dalam kondisi tertentu mendukung proses pemadaman kebakaran. Namun, penanganan karhutla tetap membutuhkan operasi pemadaman dan pencegahan secara berkelanjutan.
Salat istisqa yang digelar secara bersama-sama juga memperlihatkan respons masyarakat terhadap kondisi lingkungan yang mereka hadapi. Ribuan warga memilih berkumpul dan berdoa sembari berharap situasi segera membaik.
Di tengah ancaman karhutla, masyarakat juga dihadapkan pada kebutuhan untuk menjaga kesehatan dan mengurangi paparan asap. Kondisi udara yang buruk dapat mengganggu kenyamanan serta aktivitas sehari-hari, terutama bagi kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap polusi udara.
Kebakaran hutan dan lahan sendiri dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi vegetasi yang kering, cuaca, serta aktivitas manusia. Karena itu, hujan memang dapat membantu meredakan kondisi kebakaran, tetapi pencegahan sumber api tetap menjadi langkah utama agar persoalan tidak terus berulang.
Bagi warga Palembang dan sejumlah wilayah di Kalimantan, salat istisqa menjadi bagian dari ikhtiar menghadapi situasi tersebut. Doa agar hujan segera turun berjalan beriringan dengan upaya penanganan karhutla yang dilakukan oleh pemerintah, petugas, dan masyarakat.
Pelaksanaan salat minta hujan di beberapa daerah sekaligus menjadi gambaran betapa luasnya dampak musim kering dan karhutla yang dirasakan masyarakat. Ketika asap masih menyelimuti sejumlah kawasan dan titik api masih muncul, harapan terhadap turunnya hujan menjadi semakin kuat.
Masyarakat berharap hujan segera mengguyur wilayah terdampak, sehingga kebakaran dapat lebih mudah dikendalikan dan kualitas udara perlahan kembali membaik. Di sisi lain, upaya pemadaman, pencegahan, dan pengawasan tetap diperlukan agar ancaman karhutla tidak kembali meluas.
Salat istisqa akhirnya bukan hanya menjadi momentum doa bersama, tetapi juga mencerminkan harapan masyarakat untuk segera terbebas dari ancaman kebakaran dan kabut asap. Mereka berharap langit segera menurunkan hujan, udara kembali bersih, dan aktivitas warga dapat berjalan normal.