Apple Perluas Skema Sewa Perangkat, Pengamat: Tanda Kepemilikan Kelas Menengah Sedang Tergerus

Lensa Nuansa

Portal Berita Indonesia

lensanuansa.com
Apple Perluas Skema Sewa Perangkat, Pengamat: Tanda Kepemilikan Kelas Menengah Sedang Tergerus
Nasional

Apple Perluas Skema Sewa Perangkat, Pengamat: Tanda Kepemilikan Kelas Menengah Sedang Tergerus

Fazlur Rahman · 14 Agustus 2026 · 12.09 WIB · 2 dibaca

JAKARTA – Langkah Apple yang semakin agresif mendorong skema sewa atau rental perangkat keras kembali menjadi sorotan. Tren ini dinilai bukan sekadar inovasi bisnis, melainkan bagian dari pergeseran besar menuju model kepemilikan yang semakin menipis di kalangan kelas menengah.

Pengamat keuangan dan penulis Irwansyah menilai fenomena tersebut sebagai bukti nyata berjalannya agenda “You will own nothing and be happy” yang kerap dikaitkan dengan World Economic Forum (WEF). Menurutnya, banyak konsumen kelas menengah justru merayakan kemudahan mengakses barang mewah tanpa modal besar di muka, tanpa menyadari konsekuensi jangka panjangnya.

“Banyak yang bersorak karena merasa hemat bisa pegang barang mewah tanpa modal besar di awal. Padahal kalau dihitung dengan matematika finansial, mereka sedang mengunci diri dalam pemotongan gaji permanen (permanent cash outflow) dengan zero equity. Setiap bulan bayar, tapi tidak punya aset apa-apa,” ujar Irwansyah dalam pernyataannya.


Ia menekankan bahwa orang yang melek finansial justru khawatir. Skema sewa dan model berlangganan (subscription) dianggap sebagai mesin penguras tabungan paling efektif yang pernah diciptakan korporasi. Alih-alih membangun kekayaan, konsumen hanya menyewa gaya hidup tanpa pernah memiliki aset riil.

Irwansyah mengingatkan pentingnya membedakan pengeluaran untuk produksi dan konsumsi. “Jangan mau cuma jadi penyewa dalam hidup sendiri. Pahami bedanya pengeluaran buat produksi versus konsumsi, dan fokus alokasikan uang untuk membangun aset riil milik sendiri,” tegasnya.

Tren sewa perangkat memang semakin umum di industri teknologi. Produsen menawarkan opsi berlangganan yang memungkinkan konsumen selalu menggunakan perangkat terbaru dengan cicilan bulanan tetap. Di satu sisi, model ini mengurangi hambatan akses dan memberikan fleksibilitas upgrade. Di sisi lain, konsumen kehilangan kesempatan membangun ekuitas atas barang yang digunakan.

Para pengamat keuangan independen umumnya sependapat bahwa kebiasaan berlangganan yang berlebihan—baik untuk perangkat, software, maupun layanan hiburan—dapat mengikis kemampuan menabung dan berinvestasi. Uang yang seharusnya bisa dialokasikan untuk aset produktif justru mengalir terus-menerus sebagai biaya operasional gaya hidup.

Irwansyah menutup pesan dengan ajakan agar masyarakat, khususnya kelas menengah, mulai “bangun dari ilusi gaya hidup sewaan”. Menurutnya, kepemilikan aset tetap menjadi fondasi kemandirian finansial yang tidak bisa digantikan oleh kemudahan akses sementara.

Hingga saat ini, Apple dan perusahaan teknologi lain terus mengembangkan layanan berlangganan dan opsi pembiayaan perangkat. Sementara itu, diskusi tentang dampak jangka panjang model bisnis ini terhadap pola kepemilikan dan kesehatan keuangan rumah tangga diperkirakan akan semakin ramai.

Tag
Memuat tag...