AS Kembali Terapkan “Maximum Pressure” terhadap Iran: Sanksi Ekonomi dan Blokade Laut Jadi Senjata Utama
Setelah kampanye militer yang berlangsung hampir enam bulan gagal memaksa rezim Iran menyerah, pemerintahan Presiden Donald Trump kini beralih ke strategi lama yang pernah digunakannya: tekanan ekonomi masif. Pendekatan yang dikenal sebagai “Maximum Pressure” kembali dihidupkan dengan peningkatan sanksi bertahap dan blokade laut untuk memotong ekspor minyak Iran.
Pejabat tinggi Gedung Putih menegaskan bahwa opsi militer yang lebih intensif sempat dipertimbangkan hanya beberapa hari sebelumnya. Namun keterbatasan amunisi, biaya yang terus membengkak, serta menurunnya dukungan publik terhadap perang yang berlarut-larut membuat administrasi Trump memutuskan untuk menarik rem. Mereka memilih kembali mengandalkan senjata ekonomi yang lebih “murah” secara politik dan logistik.
“Kami tidak akan membiarkan Teheran bernapas lega. Sanksi yang lebih ketat dan pengendalian jalur laut akan memotong urat nadi ekonomi mereka,” kata seorang pejabat senior yang berbicara di bawah syarat anonim. Ia menambahkan bahwa target utamanya adalah menekan pendapatan minyak Iran hingga ke titik terendah, memaksa rezim ayatollah untuk bernegosiasi dari posisi lemah.
Strategi ini mengingatkan pada periode pertama kepemimpinan Trump (2018–2020). Saat itu “Maximum Pressure” berhasil menurunkan ekspor minyak Iran secara signifikan, namun gagal mendorong perubahan perilaku yang diinginkan Washington sebelum tahun 2020. Kali ini, tim Trump optimistis hasilnya akan berbeda. Mereka percaya kondisi ekonomi Iran yang sudah jauh lebih rentan—diperburuk oleh konflik berkepanjangan, inflasi tinggi, dan isolasi internasional—akan membuat tekanan ini lebih efektif.
Blokade laut menjadi elemen baru yang lebih agresif. Angkatan Laut AS dan sekutunya diperkirakan akan meningkatkan patroli di Selat Hormuz dan jalur pelayaran utama untuk mencegah tanker Iran menjual minyak ke pasar Asia dan Eropa. Langkah ini diyakini mampu memangkas pendapatan devisa Teheran dalam hitungan minggu, bukan bulan.
Namun para analis memperingatkan risiko eskalasi. Iran sebelumnya telah mengancam akan menutup Selat Hormuz jika merasa terpojok, sebuah langkah yang bisa mengguncang harga minyak global. Selain itu, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada koordinasi dengan sekutu Eropa dan Asia yang selama ini lebih longgar dalam menerapkan sanksi.
Di dalam negeri AS, keputusan Trump mendapat dukungan dari kalangan yang lelah dengan keterlibatan militer langsung. Survei terbaru menunjukkan mayoritas publik menginginkan pendekatan non-militer setelah enam bulan konflik yang menelan biaya besar dan menimbulkan korban. Di sisi lain, kritik muncul dari pihak yang menilai tekanan ekonomi saja tidak cukup untuk menundukkan rezim yang sudah terbiasa bertahan di bawah sanksi selama puluhan tahun.
Hingga saat ini, Teheran belum memberikan respons resmi yang komprehensif. Namun pejabat Iran sebelumnya berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak akan tunduk pada tekanan ekonomi dan siap menghadapi segala skenario, termasuk konfrontasi di laut.
Dengan kembali mengandalkan “Maximum Pressure”, Trump mempertaruhkan reputasinya sebagai pemimpin yang mampu “menyelesaikan masalah Iran” tanpa perang yang berkepanjangan. Apakah strategi yang pernah gagal ini akan berhasil di putaran kedua, masih menjadi pertanyaan besar yang akan dijawab oleh perkembangan di lapangan dalam beberapa bulan ke depan.