Gunung Sinabung Kembali Erupsi Setelah 5 Tahun, Status Naik Siaga, 615 Warga Dievakuasi dan Penerbangan Terganggu
Gunung Sinabung kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan setelah sekitar lima tahun relatif tenang. Sejak erupsi pada Senin (31/8) hingga Rabu (2/9), aktivitas gunung api di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, terus menjadi perhatian karena disertai peningkatan kegempaan, semburan abu vulkanik hingga 3.500 meter di atas puncak, evakuasi ratusan warga, hingga gangguan penerbangan di Bandara Internasional Kualanamu.
sebelumnya menaikkan status Gunung Sinabung dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga pada 31 Agustus 2026. Dalam laporan resminya, Badan Geologi mencatat bahwa sebelum erupsi pukul 10.17 WIB, terjadi rentetan 85 gempa vulkanik, satu gempa hembusan, dan satu tremor harmonik.
Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali menunjukkan aktivitas erupsi setelah sekitar lima tahun sejak letusan terakhir pada 28 Juli 2021. Erupsi terbaru yang terjadi pada Senin (31/8) disertai semburan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 3.500 meter di atas puncak gunung atau mencapai sekitar 5.960 meter di atas permukaan laut. Kondisi tersebut kemudian diikuti peningkatan aktivitas vulkanik yang membuat pemerintah memperketat langkah mitigasi di wilayah sekitar gunung.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan status Gunung Sinabung dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga pada 31 Agustus 2026. Kenaikan status dilakukan setelah pemantauan menunjukkan adanya peningkatan aktivitas kegempaan dan erupsi yang dinilai masih berpotensi berkembang.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menyebut erupsi yang terjadi pada Senin merupakan erupsi awal. Karena itu, perkembangan aktivitas Gunung Sinabung masih harus dipantau secara ketat karena tidak menutup kemungkinan terjadinya erupsi lanjutan dengan intensitas lebih besar.
Erupsi pada Senin tersebut tercatat mulai pukul 10.17 WIB. Berdasarkan laporan Badan Geologi, kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah timur serta tenggara. Erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 120 milimeter dan berlangsung sekitar satu jam lebih.
Yang menjadi perhatian bukan hanya erupsi yang terlihat secara visual, tetapi juga aktivitas kegempaan yang mendahuluinya. Sebelum erupsi terjadi, alat pemantauan mencatat 85 kali gempa vulkanik, satu kali gempa hembusan, dan satu kali tremor harmonik. Rangkaian aktivitas tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam membaca peningkatan aktivitas magma di bawah gunung.
Kondisi ini membuat masyarakat di sejumlah wilayah yang berada dalam potensi paparan erupsi harus meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah bersama tim gabungan kemudian melakukan evakuasi terhadap warga yang dinilai berada di kawasan berisiko.
BNPB melaporkan sebanyak 615 warga atau sekitar 211 keluarga dari Desa Kuta Tengah telah dievakuasi ke Posko Penanganan Darurat di Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran. Evakuasi dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bahaya akibat peningkatan aktivitas Gunung Sinabung.
Desa Payung juga menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius. Namun, berdasarkan data BNPB, warga Desa Payung pada saat laporan tersebut disampaikan masih berada di rumah masing-masing dengan status siaga penuh dan berada di bawah pemantauan tim gabungan.
Dengan naiknya status menjadi Level III Siaga, kewaspadaan masyarakat di sekitar Gunung Sinabung turut diperketat. BNPB mengimbau masyarakat maupun wisatawan untuk tidak memasuki desa-desa yang telah dievakuasi, kawasan dalam radius tiga kilometer dari puncak, serta sektor tertentu hingga enam kilometer ke arah tenggara yang berpotensi terdampak aktivitas erupsi.
Pemerintah daerah juga bergerak memastikan kebutuhan dasar para pengungsi tetap terpenuhi. Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution memastikan warga yang harus meninggalkan rumah mendapatkan kebutuhan pokok selama berada di lokasi pengungsian, termasuk tempat tidur, tikar, selimut, air bersih, penerangan, serta fasilitas sanitasi dan toilet.
Perhatian terhadap kondisi pengungsi menjadi penting karena situasi Gunung Sinabung masih dinamis. Erupsi gunung api tidak hanya menimbulkan ancaman langsung berupa lontaran material vulkanik, tetapi juga dapat menyebabkan paparan abu vulkanik di wilayah yang lebih luas tergantung arah dan kecepatan angin.
Dampak aktivitas Sinabung bahkan telah merembet ke sektor transportasi udara. Sebaran abu vulkanik mengganggu operasional penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Kualanamu di Deli Serdang, Sumatera Utara. Pengelola bandara menyatakan keselamatan penerbangan menjadi prioritas di tengah perubahan kondisi akibat aktivitas Gunung Sinabung.
Pada Selasa (1/9), tercatat 41 pergerakan penerbangan pada rute Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Kualanamu maupun sebaliknya, yang terdiri atas 20 kedatangan dan 21 keberangkatan. Dari jumlah tersebut, 15 penerbangan dibatalkan akibat dampak aktivitas vulkanik Sinabung, sementara penerbangan lainnya juga mengalami penyesuaian. Estimasi penumpang yang terkait dengan trafik rute tersebut mencapai sekitar 5.350 orang.
Gangguan penerbangan terjadi karena abu vulkanik dapat membahayakan operasional pesawat apabila masuk ke jalur penerbangan atau berada di sekitar bandar udara. Karena itu, keputusan untuk membatalkan, menunda, mengubah jadwal, atau mengalihkan penerbangan dilakukan berdasarkan perkembangan sebaran abu dan pertimbangan keselamatan.
Pengelola Bandara Kualanamu pun terus berkoordinasi dengan maskapai serta pemangku kepentingan terkait untuk memantau perkembangan situasi. Calon penumpang yang memiliki penerbangan dari atau menuju Kualanamu diminta aktif memeriksa informasi terbaru melalui maskapai masing-masing karena kondisi penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas vulkanik.
Kembalinya aktivitas erupsi Gunung Sinabung setelah lima tahun menjadi pengingat bahwa status gunung api yang relatif stabil dalam suatu periode tidak berarti ancaman vulkanik telah berakhir. Perubahan aktivitas dapat terjadi kembali dan harus diantisipasi melalui pemantauan ilmiah serta kesiapsiagaan masyarakat.
Untuk saat ini, perhatian utama pemerintah adalah memastikan masyarakat berada di lokasi aman, kebutuhan para pengungsi terpenuhi, serta perkembangan aktivitas Gunung Sinabung terus dipantau. Terlebih, Badan Geologi telah mengingatkan bahwa erupsi yang terjadi pada 31 Agustus merupakan erupsi awal sehingga kemungkinan terjadinya aktivitas lanjutan masih harus diwaspadai.
Masyarakat di sekitar Gunung Sinabung diimbau tidak mendekati kawasan yang telah dinyatakan berbahaya dan tidak mengabaikan informasi resmi dari Badan Geologi, BNPB, pemerintah daerah, maupun petugas di lapangan. Dalam situasi gunung api yang masih aktif, mengikuti rekomendasi resmi menjadi langkah paling penting untuk mengurangi risiko terhadap keselamatan warga.
Saya juga sudah menyesuaikan bagian penerbangan dengan data terbaru yang tersedia, termasuk 15 penerbangan Soetta–Kualanamu yang dibatalkan5.350 penumpang terdampak pada trafik rute tersebut