Kisah Mbah Senen, Setengah Abad Memikul Angkringan demi Sesuap Nasi di Usia Senja
Di tengah gemerlap Kota Solo yang terus berkembang, sosok Mbah Senen (74) masih setia menyusuri jalanan sambil memikul dagangan angkringannya, sebuah pemandangan yang kini semakin langka ditemui. Berjualan sejak tahun 1969, Mbah Senen kini menjadi satu-satunya penjual angkringan pikul yang tersisa di Solo, Jawa Tengah, mempertahankan tradisi berdagang tempo dulu yang sudah hampir punah ditelan zaman.
Sehari-hari, Mbah Senen berjalan sambil memikul beban seberat sekitar 60 kilogram di kedua pundaknya. Dalam pikulan tersebut, tersimpan berbagai jajanan yang menjadi dagangannya, mulai dari nasi bandeng, telur, tahu bakso, tempe, hingga beragam lauk pauk lainnya. Model jualan seperti ini merupakan bentuk angkringan pertama yang pernah muncul di Solo, bermula dari warga Bayat, Klaten bernama Karso Djukut, yang dahulu berjualan keliling dengan membawa dagangan menggunakan pikulan.
Untuk menerangi dagangannya saat berjalan menawarkan makanan kepada calon pembeli, Mbah Senen masih setia menggunakan lampu teplok tradisional, sebuah ciri khas yang semakin jarang dijumpai di tengah maraknya pedagang modern berlampu listrik. Rute jualannya pun kini tak sejauh dulu, mengingat faktor usia yang membatasi kemampuan fisiknya. Jika dulu ia sanggup berjalan dari Mojosongo, melewati Bibis, hingga Gendengan, kini Mbah Senen memilih rute yang lebih dekat, yakni dari kosnya di kawasan Pasar Depok menuju RS Brayat Minulya, dan terkadang berhenti sejenak di sekitar Terminal Tirtonadi.
Meski usianya sudah tak lagi muda, Mbah Senen mengaku tak memiliki pilihan lain selain terus berjualan demi menyambung hidup. "Gaweane ngene nek mboten ngene mboten mangan (pekerjaannya memang seperti ini, kalau tidak bekerja tidak makan)," ujar Mbah Senen saat ditemui di depan RS Brayat Minulya, Solo, Kamis (6/8/2026). Kalimat sederhana namun penuh makna itu mencerminkan realita hidup yang dijalani Mbah Senen, di mana bekerja bukan sekadar pilihan, melainkan satu-satunya cara untuk bertahan hidup di usia senja.
Mbah Senen bercerita bahwa dirinya memiliki lima orang anak dan 12 cucu. Setiap akhir pekan, ia menyempatkan diri pulang ke kampung halamannya di Gemolong, Sragen, untuk beristirahat sejenak dari rutinitas berjualan yang menguras tenaga. Ia mulai berjualan sejak masih belasan tahun dan terus konsisten menjalani profesi ini selama lebih dari setengah abad, menjadikan dirinya saksi hidup perjalanan panjang tradisi angkringan pikul di Kota Solo.
Kisah Mbah Senen menjadi potret nyata perjuangan generasi tua yang tetap gigih bekerja demi bertahan hidup, sekaligus pengingat akan warisan budaya kuliner khas Solo yang perlahan mulai tergerus perkembangan zaman. Di tengah minimnya perhatian dan bantuan yang menyentuh dirinya secara langsung, semangat Mbah Senen memikul beban 60 kilogram setiap hari menjadi cerminan ketangguhan dan keteguhan hati seorang pedagang tradisional yang enggan menyerah pada usia maupun keterbatasan.