Perempuan Jadi Tulang Punggung Keluarga Makin Marak, 47,65% Tanggung Hampir Seluruh Pendapatan Rumah Tangga
Pandangan bahwa laki-laki merupakan pencari nafkah utama sementara perempuan berperan sebagai pendukung ekonomi keluarga perlahan mulai bergeser. Di Indonesia, semakin banyak perempuan yang tidak hanya bekerja untuk menambah penghasilan rumah tangga, tetapi justru menjadi penopang utama kebutuhan ekonomi keluarganya.
Fenomena tersebut tergambar dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2027. Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan tersebut, 14,37 persen pekerja perempuan di Indonesia masuk kategori female breadwinners atau perempuan yang menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga.
Yang menarik, hampir separuh dari kelompok tersebut memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap pendapatan rumah tangga. Sebanyak 47,65 persen female breadwinners tercatat menanggung 90–100 persen pendapatan keluarga.
Angka itu menunjukkan bahwa bagi hampir separuh perempuan yang masuk kategori pencari nafkah utama, penghasilan mereka bukan sekadar pelengkap ekonomi rumah tangga. Pendapatan tersebut menjadi sumber utama yang menopang kebutuhan keluarga, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga berbagai keperluan jangka panjang.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan perubahan yang semakin nyata dalam pembagian peran ekonomi di dalam keluarga Indonesia. Perempuan semakin hadir di dunia kerja dan mengambil tanggung jawab finansial yang sebelumnya lebih sering dilekatkan kepada laki-laki.
Perubahan tersebut juga tidak hanya terjadi pada perempuan yang belum menikah atau mereka yang menjadi orang tua tunggal. Data IMGR 2027 menunjukkan, 51,36 persen female breadwinners justru berstatus menikah.
Sementara itu, 31,18 persen berstatus janda dan 17,46 persen lainnya masih lajang. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa perempuan yang menjadi sumber utama pendapatan keluarga hadir dalam beragam kondisi kehidupan.
Status pernikahan tidak lagi menjadi satu-satunya penentu siapa yang menjadi pencari nafkah utama dalam rumah tangga. Dalam banyak keluarga, perempuan dan laki-laki dapat berbagi peran ekonomi secara lebih fleksibel, termasuk ketika perempuan menjadi pihak yang menyumbang pendapatan terbesar.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari meningkatnya partisipasi perempuan dalam aktivitas ekonomi. Pendidikan, perubahan struktur pekerjaan, perkembangan sektor jasa dan ekonomi digital, hingga kebutuhan rumah tangga yang semakin kompleks turut membuka ruang lebih besar bagi perempuan untuk memperoleh penghasilan.
Namun, menjadi pencari nafkah utama juga membawa tanggung jawab yang tidak ringan. Ketika penghasilan seorang perempuan menjadi sumber utama keluarga, tekanan ekonomi dan tuntutan pekerjaan dapat berjalan bersamaan dengan tanggung jawab domestik.
Di satu sisi, perempuan dituntut untuk mempertahankan produktivitas dan pendapatan. Di sisi lain, kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi. Dalam kondisi tertentu, beban tersebut dapat membuat perempuan harus menjalankan berbagai peran sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Karena itu, angka female breadwinners tidak semestinya hanya dibaca sebagai statistik tentang meningkatnya jumlah perempuan bekerja. Di balik data tersebut terdapat perubahan struktur ekonomi keluarga dan cara masyarakat memandang peran laki-laki serta perempuan.
Bagi sebagian keluarga, perubahan ini merupakan bentuk adaptasi terhadap kondisi ekonomi. Ketika biaya hidup meningkat dan kebutuhan rumah tangga semakin beragam, sumber pendapatan keluarga juga semakin perlu mengandalkan lebih dari satu pihak.
Namun, bagi perempuan yang menanggung hampir seluruh pendapatan rumah tangga, ketergantungan ekonomi keluarga terhadap satu sumber penghasilan juga dapat menghadirkan risiko tersendiri. Kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan, atau kondisi lain yang menghambat kemampuan bekerja dapat langsung memengaruhi keberlangsungan ekonomi keluarga.
Karena itu, dukungan terhadap perempuan pencari nafkah utama tidak cukup hanya berbicara mengenai kesempatan bekerja. Aspek perlindungan pekerja, kesetaraan kesempatan, keamanan pendapatan, akses terhadap pengembangan keterampilan, serta dukungan terhadap kebutuhan keluarga juga menjadi semakin relevan.
Data tersebut juga memberikan gambaran bahwa definisi "tulang punggung keluarga" kini tidak lagi dapat dilekatkan secara otomatis kepada laki-laki. Dalam semakin banyak rumah tangga, perempuan mengambil posisi yang sama pentingnya, bahkan menjadi pihak yang memikul sebagian besar tanggung jawab finansial.
Perubahan tersebut juga menuntut perubahan cara pandang masyarakat. Perempuan yang bekerja dan menjadi pencari nafkah utama bukan sekadar sedang mengejar karier atau memperoleh penghasilan tambahan. Bagi sebagian dari mereka, pekerjaan merupakan bagian penting dari upaya memastikan keluarga dapat bertahan dan memenuhi kebutuhan hidup.
Angka 47,65 persen yang menanggung 90–100 persen pendapatan rumah tangga menjadi gambaran kuat mengenai besarnya tanggung jawab tersebut. Di balik persentase itu terdapat perempuan yang harus terus bekerja ketika menghadapi tekanan, tetap memikirkan kebutuhan keluarga ketika memiliki kebutuhan pribadi, dan mempertahankan penghasilan karena banyak kebutuhan rumah tangga bergantung pada dirinya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa wajah ekonomi keluarga Indonesia sedang berubah. Perempuan semakin bukan hanya menjadi bagian dari tenaga kerja, tetapi juga menjadi aktor utama dalam menjaga keberlangsungan ekonomi rumah tangga.
Data dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2027 yang mengutip BPS Sakernas tersebut pada akhirnya memberikan pesan yang lebih luas: peran ekonomi perempuan di dalam keluarga semakin besar dan tidak dapat lagi dipandang sebagai fenomena sampingan.
Di tengah perubahan tersebut, perempuan pencari nafkah utama layak dipandang bukan hanya dari besarnya kontribusi ekonomi yang mereka berikan, tetapi juga dari tanggung jawab besar yang mereka pikul. Sebab, di balik seorang perempuan yang bekerja keras, bisa jadi ada keluarga yang menggantungkan keberlangsungan hidupnya pada pendapatan yang ia bawa pulang.