Prabowo Bangga BMKG Jadi Rujukan Dunia, Indonesia Diminta Bantu Negara Hadapi Bencana

Lensa Nuansa

Portal Berita Indonesia

lensanuansa.com
Prabowo Bangga BMKG Jadi Rujukan Dunia, Indonesia Diminta Bantu Negara Hadapi Bencana
Nasional

Prabowo Bangga BMKG Jadi Rujukan Dunia, Indonesia Diminta Bantu Negara Hadapi Bencana

Fazlur Rahman · 26 Agustus 2026 · 22.57 WIB · 7 dibaca

Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi kapasitas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dinilai semakin diakui di tingkat internasional. Kemampuan Indonesia dalam pemantauan dan mitigasi bencana bahkan membuat sejumlah negara meminta dukungan teknis untuk memperkuat sistem meteorologi, klimatologi, dan geofisika mereka.

Apresiasi tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin Rapat Koordinasi Penanganan Pascagempa Nusa Tenggara Timur (NTT) di Posko Penanganan Bencana Alam Kodam IX/Udayana, Nagekeo, NTT, Rabu (26/8/2026).

"Saya kira di bidang gempa sama gunung berapi mungkin Indonesia yang paling ahli mungkin, ya. Ya kita terima kasih, you, Anda bantu terus," ujar Prabowo kepada Kepala BMKG dalam rapat tersebut.

Pernyataan Presiden disampaikan setelah mendengarkan paparan Kepala BMKG Prof Teuku Faisal Fathani mengenai perkembangan sistem pemantauan dan peringatan dini bencana di Indonesia. Dalam laporan tersebut, Faisal menyampaikan bahwa kapasitas BMKG semakin mendapatkan pengakuan dari komunitas internasional.

Faisal menjelaskan bahwa posisi geografis Indonesia yang berada di kawasan rawan berbagai bencana membuat penguatan sistem pemantauan menjadi kebutuhan yang sangat penting. Indonesia menghadapi ancaman gempa bumi, aktivitas gunung api, siklon tropis, kekeringan, hingga berbagai fenomena cuaca ekstrem.

Pengalaman menghadapi berbagai ancaman tersebut turut mendorong pengembangan kemampuan BMKG dalam menyediakan informasi dan peringatan dini. Kapasitas tersebut kemudian menjadi salah satu alasan negara-negara lain di kawasan meminta dukungan dan berbagi pengetahuan dengan Indonesia.

Salah satu negara yang disebut secara langsung adalah Timor Leste. Faisal mengatakan Menteri Perhubungan Timor Leste bersama jajarannya datang ke kantor BMKG untuk meminta dukungan Indonesia dalam memperkuat kapasitas meteorologi, klimatologi, dan geofisika negara tersebut.

Kebutuhan tersebut dinilai semakin penting karena Timor Leste juga menghadapi berbagai risiko bencana dan kondisi cuaca yang dapat berdampak terhadap masyarakat serta aktivitas ekonomi.

"Satu hal lagi Bapak Presiden, bahwa kondisi di Nusa Tenggara Timur ini terancam akan bencana siklon tropis, kekeringan, dan juga gempa. Sehingga hari ini jam 13.00 siang, Menteri Perhubungan dari Timor Leste beserta jajaran itu datang ke kantor BMKG ingin mendapatkan support dari Indonesia untuk dapat memperkuat meteorologi, klimatologi, dan geofisika di Timor Leste," kata Faisal.

Dukungan Indonesia tidak hanya diarahkan kepada Timor Leste. Menurut Faisal, BMKG juga telah memberikan dukungan kepada sejumlah negara di kawasan Oseania, termasuk Fiji dan Tonga.

"Tidak hanya Timor Leste, tapi di negara-negara Oseania seperti Fiji, Tonga itu kita juga mendukung karena BMKG sudah lebih advance di bidang penanganan bencana dan pemantauannya," ujar Faisal.

Menurut dia, pengalaman Indonesia dalam menghadapi bencana dapat menjadi sumber pembelajaran bagi negara-negara lain yang memiliki karakteristik ancaman serupa. Kerja sama tersebut sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam membangun sistem mitigasi bencana di kawasan.

Pengakuan internasional terhadap kapasitas BMKG juga terlihat dari keterlibatannya dalam pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

Faisal menyampaikan bahwa Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) telah menetapkan Indonesia sebagai Regional Training Centre. Status tersebut membuat Indonesia memiliki peran dalam mendukung pengembangan kapasitas negara-negara lain melalui kegiatan pelatihan dan pertukaran pengetahuan.

"Afrika, dari Tunisia, Maroko, dari beberapa negara Afrika. Kita ditetapkan oleh WMO sebagai Regional Training Centre. Hanya Indonesia dan Australia yang punya predikat itu di kawasan ini, Bapak Presiden," kata Faisal.

Posisi tersebut menjadi capaian penting bagi Indonesia karena menunjukkan bahwa kemampuan teknis yang dikembangkan di dalam negeri tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan nasional. Kapasitas tersebut juga dapat digunakan untuk membantu negara lain memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana.

Bagi Indonesia, kebutuhan terhadap sistem peringatan dini memang sangat besar. Sebagai negara kepulauan yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, Indonesia memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap gempa bumi dan aktivitas gunung api.

Di sisi lain, perubahan pola cuaca dan iklim juga menghadirkan tantangan baru. Kekeringan, hujan ekstrem, banjir, longsor, serta fenomena atmosfer lainnya dapat menimbulkan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat.

Dalam kondisi tersebut, informasi yang cepat dan akurat menjadi bagian penting dari upaya mitigasi. Peringatan dini memungkinkan pemerintah dan masyarakat mengambil langkah antisipasi sebelum bencana atau cuaca ekstrem menimbulkan dampak yang lebih besar.

Kemampuan tersebut juga memiliki nilai strategis dalam hubungan antarnegara. Ketika Indonesia mampu memberikan dukungan teknis kepada negara lain, kerja sama tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas mitigasi bencana, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengetahuan kebencanaan di kawasan.

Prabowo pun memberikan dukungan terhadap langkah BMKG memperluas bantuan teknis kepada negara-negara yang membutuhkan. Restu Presiden tersebut menunjukkan bahwa kerja sama dalam bidang kebencanaan dipandang sebagai bagian penting dari kontribusi Indonesia di tingkat regional dan internasional.

Peran BMKG dalam membantu negara lain juga menjadi contoh bahwa pengalaman menghadapi bencana dapat diubah menjadi kekuatan pengetahuan. Tantangan geografis yang selama ini menjadi risiko bagi Indonesia sekaligus mendorong lahirnya keahlian yang dapat dibagikan kepada negara lain.

Di tengah meningkatnya risiko bencana dan ketidakpastian iklim global, kerja sama antarnegara dalam sistem peringatan dini menjadi semakin penting. Bencana tidak mengenal batas wilayah, sehingga pertukaran data, teknologi, keahlian, dan pengalaman dapat membantu meningkatkan kesiapsiagaan bersama.

Penguatan BMKG karena itu tidak hanya berkaitan dengan kepentingan domestik. Kapasitas lembaga tersebut juga memiliki dimensi diplomasi, teknologi, dan kemanusiaan yang dapat memberikan manfaat lebih luas.

Apresiasi Prabowo sekaligus menjadi dorongan agar BMKG terus meningkatkan kemampuan dan memperluas kerja sama internasional. Dengan sistem pemantauan yang semakin maju dan jaringan kerja sama yang semakin luas, Indonesia diharapkan tidak hanya mampu melindungi masyarakatnya sendiri, tetapi juga berkontribusi dalam memperkuat ketahanan bencana negara-negara lain.

Bagi Indonesia, menjadi rujukan dalam mitigasi bencana bukan sekadar soal kebanggaan. Lebih jauh, hal tersebut menunjukkan bahwa pengalaman panjang menghadapi gempa, gunung api, cuaca ekstrem, dan berbagai ancaman alam dapat menjadi pengetahuan yang bernilai bagi dunia.

Tag
Memuat tag...