Harga Minyak Stabil di Level Tinggi, Pedagang Pantau Kemajuan Negosiasi Selat Hormuz
Harga minyak mentah dunia cenderung stabil pada perdagangan terbaru setelah menguat selama empat hari berturut-turut. Para pelaku pasar kini mencermati perkembangan diplomatik yang berpotensi memulihkan arus energi melalui Selat Hormuz, jalur vital yang menyumbang sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global sebelum konflik di Timur Tengah memanas.
West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar US$83 per barel, setelah mencatat kenaikan hampir 11 persen dalam empat sesi perdagangan sebelumnya. Sementara itu, harga minyak Brent, yang menjadi acuan internasional, ditutup di kisaran US$89 per barel. Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan yang berkepanjangan di kawasan Teluk Persia.
Menteri Pertahanan Pakistan menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran “sudah mendekati suatu bentuk kesepakatan” terkait Selat Hormuz. Pernyataan tersebut memberikan sinyal positif di tengah dinamika yang fluktuatif antara optimisme dan kebuntuan dalam upaya membuka kembali jalur strategis tersebut.
Selain itu, pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz telah memasuki tahap lanjutan. Al Jazeera melaporkan hal ini dengan mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar. Oman, sebagai negara pesisir yang berbatasan dengan selat tersebut, berperan penting dalam negosiasi teknis terkait rute pelayaran, layanan maritim, dan potensi pengaturan biaya.
Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, menjadi titik krusial bagi ekspor energi dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Qatar. Gangguan di jalur ini sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026 telah mendorong harga minyak naik signifikan sepanjang tahun, dengan beberapa acuan sempat mencatat kenaikan lebih dari 40 persen.
Harga minyak berjangka sangat responsif terhadap setiap perkembangan terkait upaya pembukaan kembali selat. Pedagang terus memantau pernyataan resmi dari Washington, Teheran, serta mediator regional seperti Pakistan, Qatar, dan Oman. Meskipun ada indikasi kemajuan, Iran sebelumnya menekankan bahwa pembukaan penuh jalur tersebut bergantung pada pemenuhan sejumlah syarat, termasuk terkait sanksi dan kompensasi.
Analis pasar menilai bahwa keberhasilan kesepakatan dapat menekan harga minyak dalam jangka menengah, seiring pemulihan arus tanker. Sebaliknya, kebuntuan yang berkepanjangan berpotensi mempertahankan tekanan pada pasokan global, terutama di tengah risiko tambahan dari konflik di wilayah lain.
Pada perdagangan terbaru, stabilitas harga mencerminkan sikap wait-and-see para investor. Mereka menanti konfirmasi lebih konkret mengenai kerangka kesepakatan yang dapat mengembalikan normalisasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Data pelayaran sebelumnya menunjukkan penurunan tajam jumlah kapal yang melintas dibandingkan rata-rata harian sebelum konflik.
Bagi negara-negara importir energi, termasuk Indonesia, perkembangan di Selat Hormuz berpengaruh langsung terhadap biaya impor minyak dan produk turunannya. Kenaikan harga acuan dunia berpotensi menekan neraca perdagangan dan menambah tekanan inflasi energi jika gangguan berlanjut.
Sementara itu, produsen di kawasan Teluk berharap diplomasi dapat memulihkan kepercayaan perusahaan pelayaran dan asuransi, yang sempat menaikkan premi risiko secara signifikan. Oman dan Iran terus membahas model pengelolaan bersama, termasuk kemungkinan mekanisme rute dan layanan yang sesuai dengan hukum internasional serta hak kedaulatan negara pesisir.
Para pedagang dan analis akan terus mencermati pernyataan pejabat tinggi serta laporan dari mediator dalam beberapa hari ke depan. Keberhasilan mencapai kesepakatan yang kredibel dinilai sebagai kunci untuk meredakan volatilitas harga minyak yang telah mendominasi pasar energi sepanjang 2026.
Harga minyak diperkirakan tetap sensitif terhadap berita geopolitik hingga ada kejelasan lebih lanjut mengenai status Selat Hormuz.