Mengapa Abu Anak Krakatau Berbahaya bagi Pesawat? Pakar Ungkap Risiko hingga Mesin Bisa Mati

Lensa Nuansa

Portal Berita Indonesia

lensanuansa.com
Mengapa Abu Anak Krakatau Berbahaya bagi Pesawat? Pakar Ungkap Risiko hingga Mesin Bisa Mati
Nasional

Mengapa Abu Anak Krakatau Berbahaya bagi Pesawat? Pakar Ungkap Risiko hingga Mesin Bisa Mati

Fazlur Rahman · 08 September 2026 · 00.10 WIB · 4 dibaca

JAKARTA — Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya berdampak terhadap masyarakat di wilayah yang dilintasi sebaran abu vulkanik, tetapi juga memengaruhi operasional penerbangan. Sejumlah penerbangan harus dibatalkan atau mengalami penyesuaian karena keberadaan abu vulkanik di ruang udara dapat menimbulkan risiko serius terhadap keselamatan pesawat.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dari debu biasa. Material tersebut dapat mengandung partikel mineral, termasuk silika, serta fragmen batuan yang bersifat keras dan abrasif.

Karakteristik inilah yang membuat abu vulkanik menjadi salah satu ancaman serius bagi penerbangan. Ketika pesawat melintasi awan abu dengan konsentrasi tinggi, partikel vulkanik dapat masuk ke berbagai bagian pesawat, termasuk mesin.

Daryono menjelaskan, partikel abu yang masuk ke mesin pesawat dapat mengalami proses pelelehan ketika mencapai bagian mesin yang memiliki temperatur sangat tinggi. Material yang meleleh tersebut kemudian dapat menempel kembali pada komponen mesin dan mengganggu aliran udara maupun fungsi turbin.

Dalam kondisi tertentu, penumpukan material tersebut dapat menyebabkan gangguan serius terhadap kinerja mesin, bahkan berpotensi mengakibatkan mesin kehilangan daya atau mati. Risiko inilah yang membuat keberadaan awan abu vulkanik di jalur penerbangan harus diperlakukan secara serius oleh otoritas penerbangan.

Ancaman abu vulkanik juga tidak berhenti pada mesin. Partikel yang bersifat abrasif dapat mengikis permukaan pesawat yang terkena paparan secara langsung. Salah satu bagian yang perlu diperhatikan adalah kaca kokpit.

Paparan partikel vulkanik pada kaca kokpit dapat menyebabkan permukaannya tergores atau mengalami abrasi. Jika paparan berlangsung cukup berat, kondisi tersebut dapat mengurangi kejernihan kaca dan mengganggu pandangan pilot terhadap lingkungan di luar pesawat.

Selain itu, abu vulkanik dapat mengganggu sejumlah sensor dan instrumen yang sangat penting bagi penerbangan. Daryono menyebut salah satu bagian yang dapat terdampak adalah pitot tube

Apabila lubang atau saluran sensor tersebut tersumbat partikel abu, data yang diterima sistem pesawat dapat terganggu. Padahal, informasi dari sensor menjadi salah satu bagian penting dalam pengoperasian pesawat dan pengambilan keputusan pilot.

Abu vulkanik juga memiliki potensi memengaruhi sistem komunikasi dan kelistrikan. Partikel di atmosfer dapat menimbulkan muatan listrik statis yang berpotensi mengganggu komunikasi radio. Dalam situasi penerbangan, gangguan komunikasi tentu menjadi persoalan yang harus dihindari karena pilot membutuhkan hubungan yang baik dengan pengatur lalu lintas udara.

Komponen elektronik pesawat juga tidak luput dari perhatian. Material vulkanik yang menempel dan masuk ke bagian tertentu dapat meningkatkan risiko gangguan maupun korosi pada komponen, terutama apabila paparan berlangsung dalam kondisi yang memungkinkan material tersebut bertahan di permukaan.

Karena berbagai risiko tersebut, keputusan untuk membatalkan, mengalihkan, atau menunda penerbangan ketika terdapat sebaran abu vulkanik bukan semata-mata persoalan operasional. Langkah tersebut merupakan bagian dari prosedur keselamatan untuk mencegah pesawat memasuki wilayah udara yang berpotensi membahayakan.

Ancaman abu vulkanik juga memiliki karakteristik yang membuatnya sulit dikenali secara visual dari kokpit, khususnya ketika konsentrasinya rendah atau awan abu tidak terlihat jelas. Karena itu, informasi mengenai lokasi dan pergerakan abu menjadi sangat penting dalam menentukan keamanan rute penerbangan.

Pergerakan abu vulkanik sendiri sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer. Arah dan kecepatan angin dapat membawa material erupsi menjauh dari gunung api dan menyebarkannya ke wilayah udara yang lebih luas. Kondisi tersebut membuat pemantauan sebaran abu perlu dilakukan secara terus-menerus selama aktivitas erupsi berlangsung.

Dalam konteks erupsi Gunung Anak Krakatau, perkembangan sebaran abu menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam pengoperasian bandara di wilayah terdampak. Ketika abu berada di ruang udara yang digunakan pesawat, otoritas penerbangan harus melakukan evaluasi sebelum memberikan izin operasi.

Bagi penumpang, pembatalan atau pengalihan penerbangan tentu dapat mengganggu rencana perjalanan. Namun, keputusan tersebut merupakan konsekuensi dari prioritas utama dalam penerbangan, yakni keselamatan penumpang dan awak pesawat.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa gangguan penerbangan akibat abu vulkanik tidak selalu berarti bandara berada dalam kondisi rusak. Persoalannya dapat berada pada kondisi ruang udara dan risiko yang muncul apabila pesawat terbang melalui wilayah yang terpapar abu.

Di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih menjadi perhatian, masyarakat diimbau mengikuti informasi terbaru dari maskapai, pengelola bandara, dan otoritas penerbangan sebelum melakukan perjalanan. Penumpang juga perlu memeriksa kembali jadwal penerbangan karena perubahan kondisi sebaran abu dapat membuat jadwal dan rute perjalanan disesuaikan.

Erupsi gunung api pada akhirnya menunjukkan bahwa dampaknya dapat menjalar jauh melampaui kawasan sekitar kawah. Material yang terbawa angin dapat memengaruhi kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga sistem transportasi udara.

Bagi dunia penerbangan, abu vulkanik merupakan ancaman yang tidak boleh diremehkan. Risiko terhadap mesin, kaca kokpit, sensor, sistem komunikasi, hingga komponen elektronik membuat setiap keputusan penerbangan harus didasarkan pada pemantauan dan evaluasi kondisi ruang udara secara cermat.

Karena itu, ketika penerbangan dibatalkan atau dialihkan akibat sebaran abu Anak Krakatau, langkah tersebut sebaiknya dipahami sebagai bentuk pencegahan. Keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama, sementara operasional penerbangan dapat kembali disesuaikan setelah kondisi ruang udara dinilai aman.

Tag
Memuat tag...