Rupiah Menguat ke Rp17.600 per Dolar AS, Ekonom Ungkap Peran Calon Gubernur BI
Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan dalam beberapa hari terakhir hingga bergerak di level psikologis Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan mata uang Garuda tersebut dinilai tidak lepas dari kombinasi sentimen global dan domestik yang mendorong kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.
Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan salah satu faktor utama yang menopang rupiah adalah pelemahan dolar AS. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat terhadap dolar.
Selain faktor eksternal, sentimen dari dalam negeri turut memberikan dorongan. Salah satunya berkaitan dengan penunjukan calon tunggal Gubernur Definitif Bank Indonesia (BI), yakni Destry Damayanti.
Menurut David, kepastian mengenai calon pimpinan bank sentral memberikan sentimen positif bagi pasar. Investor dinilai melihat adanya kejelasan mengenai arah kebijakan moneter dan ekonomi Indonesia ke depan sehingga ikut mendorong masuknya aliran modal asing.
“Dari domestik, pengumuman calon Gubernur BI definitif memberikan kepastian arah ekonomi Indonesia dan pasar cenderung merespons positif, dilihat dari turunnya CDS dan naiknya inflow asing di SBN,” ujar David.
Penurunan credit default swap (CDS) menjadi salah satu indikator yang mencerminkan membaiknya persepsi risiko terhadap aset Indonesia. Sementara peningkatan aliran dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan adanya minat investor terhadap instrumen keuangan domestik.
Kombinasi kedua faktor tersebut dinilai ikut membantu rupiah menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Sebelumnya, tekanan terhadap rupiah sempat membuat pergerakan nilai tukar berada di sekitar level tersebut sehingga penguatan dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian pelaku pasar.
Sentimen positif juga muncul dari penilaian pemerintah terhadap sosok Destry Damayanti. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan Destry memiliki kompetensi dan pengalaman yang memadai untuk memimpin Bank Indonesia.
Prasetyo menilai rekam jejak Destry menjadi salah satu pertimbangan utama pemerintah ketika mengajukan namanya kepada DPR RI. Destry dinilai memiliki pengalaman panjang di bidang ekonomi dan keuangan sebelum menduduki posisi strategis di bank sentral.
“Yang pasti rekam jejak beliau. Mulai dari pendidikan sampai mengabdikan diri sekian puluh tahun di bidang keuangan,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Destry juga telah dua periode menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal yang dinilai penting dalam menghadapi tantangan kebijakan moneter, stabilitas nilai tukar, serta dinamika perekonomian global.
Bagi pasar keuangan, kepastian mengenai calon pimpinan BI memiliki arti penting karena bank sentral memegang peran strategis dalam menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Investor juga akan memperhatikan kesinambungan kebijakan moneter serta kemampuan BI merespons perubahan kondisi ekonomi global.
Penguatan rupiah yang terjadi saat ini pun tidak hanya mencerminkan faktor domestik. Pergerakan dolar AS di pasar global tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi mata uang negara berkembang. Karena itu, arah rupiah ke depan masih akan sangat bergantung pada perkembangan ekonomi dan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Di dalam negeri, investor juga akan mencermati perkembangan proses pengajuan Destry sebagai calon Gubernur BI definitif di DPR. Respons pasar terhadap proses tersebut dapat menjadi salah satu indikator seberapa besar kepastian kebijakan moneter mampu menjaga sentimen positif terhadap aset Indonesia.
Dengan kombinasi pelemahan dolar AS, meningkatnya aliran modal asing ke SBN, serta menurunnya persepsi risiko Indonesia, rupiah mendapatkan sejumlah katalis positif. Namun, penguatan tersebut tetap perlu dilihat dalam konteks kondisi pasar global yang dapat berubah dengan cepat.
Jika sentimen positif dari dalam dan luar negeri terus bertahan, rupiah berpeluang mempertahankan penguatannya. Sebaliknya, tekanan eksternal seperti perubahan arah kebijakan bank sentral global atau meningkatnya ketidakpastian ekonomi dapat kembali memengaruhi pergerakan mata uang Garuda.
Untuk saat ini, pasar memberikan respons positif terhadap sejumlah perkembangan domestik, termasuk munculnya kepastian mengenai calon Gubernur BI definitif. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu rupiah bergerak menjauh dari level Rp18.000 per dolar AS dan kembali berada di kisaran Rp17.600 per dolar AS.