Iin, Guru tanpa Gaji Tetap yang Rela Rogoh Kocek demi Menghidupi Harapan Anak Jalanan

Lensa Nuansa

Portal Berita Indonesia

lensanuansa.com
Iin, Guru tanpa Gaji Tetap yang Rela Rogoh Kocek demi Menghidupi Harapan Anak Jalanan
Nasional

Iin, Guru tanpa Gaji Tetap yang Rela Rogoh Kocek demi Menghidupi Harapan Anak Jalanan

Devi Sry Atmaja · 20 Agustus 2026 · 18.24 WIB · 8 dibaca

JAKARTA – Di sudut kota yang jarang dilirik, di antara hiruk-pikuk kehidupan yang sering kali menutup mata terhadap mereka yang terpinggirkan, ada sebuah ruang kecil yang terus menyala. Namanya Sekolah Alternatif Anak Jalanan, atau yang lebih dikenal sebagai Saaja. Di tempat itu, Kristina Iin Dwiyanti, akrab disapa Iin, datang hampir setiap hari. Bukan karena ada gaji tetap yang menanti, melainkan karena keyakinan sederhana namun kuat: setiap anak, termasuk anak jalanan, berhak mendapat ruang untuk belajar dan merasa diterima.

Iin bukanlah guru dengan latar belakang pendidikan formal yang panjang. Ia bahkan tidak pernah membayangkan dirinya akan berdiri di depan anak-anak dengan selembar papan tulis sederhana. Perjalanannya di Saaja bermula jauh sebelum ia menjadi pengajar sekaligus kepala sekolah. Awalnya, ia hanyalah seorang relawan yang datang dengan rasa ingin tahu dan kepedulian. Di sana, ia belajar langsung dari pendiri Saaja, almarhum Farid Faqih.

Dari Farid, Iin tidak hanya menyerap cara mengajar. Ia menyerap filosofi bahwa sekolah seharusnya menjadi rumah kedua bagi anak-anak yang sudah terlalu lama hidup di jalanan. Farid mengajarkan bahwa pendidikan bukan sekadar huruf dan angka, melainkan tentang membangun kembali rasa percaya diri, martabat, dan harapan yang sempat hilang.

Ketika Farid berpulang, beban yang semula dipikul sang pendiri beralih ke tangan pengelola yang tersisa. Saaja tidak memiliki donatur tetap. Tidak ada jaminan dana bulanan yang masuk secara rutin. Kebutuhan operasional sekolah—mulai dari listrik, lampu, alat tulis, hingga keperluan kecil lainnya—sering kali harus dipikirkan ulang setiap hari. Dalam kondisi seperti itu, Iin tak jarang membuka dompet pribadinya.

“Kebutuhan sekolah jadi prioritas. Kalau dana donasi tidak cukup, ya harus dicari cara lain. Kadang dari uang sendiri,” tuturnya dengan nada tenang, seolah hal itu sudah menjadi bagian dari keseharian yang ia terima dengan legawa.

Lampu yang sempat padam, kertas yang hampir habis, atau keperluan kecil lainnya pernah ia beli menggunakan uang pribadi. Bukan karena ia kaya, melainkan karena ia tahu, jika sekolah berhenti beroperasi, anak-anak yang sudah mulai merasa punya tempat akan kembali kehilangan arah. Bagi Iin, menghentikan kegiatan berarti membiarkan harapan yang baru tumbuh layu kembali.

Menjaga Saaja tetap hidup bukan perkara mudah. Tanpa gaji tetap yang bisa diandalkan untuk menghidupi diri sendiri, Iin tetap memilih datang. Ia percaya kehadiran guru yang konsisten jauh lebih berharga daripada fasilitas mewah yang tak pernah ada. Di kelas sederhana itu, anak-anak jalanan belajar membaca, menulis, menghitung, dan yang lebih penting: belajar merasa diterima sebagai manusia utuh.

Setiap hari, Iin menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak yang semula penakut atau agresif perlahan membuka diri. Ada yang mulai berani mengangkat tangan, ada yang mulai tertawa lepas, ada yang mulai bermimpi tentang masa depan yang lebih baik. Perubahan kecil itu yang terus menguatkan langkahnya.

Di tengah keterbatasan, Saaja bertahan bukan karena sistem yang mapan, melainkan karena keteguhan individu yang memilih tetap hadir. Iin menjadi salah satu bukti nyata bahwa pendidikan alternatif sering kali hidup dari pengorbanan yang tak terlihat di permukaan. Pengorbanan yang diam-diam menghidupi harapan di tempat yang jarang dilirik orang.

Tag
Memuat tag...