Tiga Gunung Api Erupsi Beruntun pada Selasa Malam, Ibu Waspada dan Lewotobi Laki-laki-Semeru Siaga

Lensa Nuansa

Portal Berita Indonesia

lensanuansa.com
Tiga Gunung Api Erupsi Beruntun pada Selasa Malam, Ibu Waspada dan Lewotobi Laki-laki-Semeru Siaga
Nasional

Tiga Gunung Api Erupsi Beruntun pada Selasa Malam, Ibu Waspada dan Lewotobi Laki-laki-Semeru Siaga

Fazlur Rahman · 20 Agustus 2026 · 18.15 WIB · 3 dibaca

JAKARTA — Aktivitas vulkanik di sejumlah wilayah Indonesia kembali meningkat. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat tiga gunung api aktif, yakni Gunung Ibu, Gunung Lewotobi Laki-laki, dan Gunung Semeru, mengalami erupsi secara beruntun pada Selasa (18/8/2026) malam.

Ketiga gunung tersebut berada di wilayah berbeda dan memiliki karakter aktivitas vulkanik masing-masing. Badan Geologi menetapkan Gunung Ibu berada pada Level II atau WaspadaLevel III atau Siaga

Perbedaan status tersebut menunjukkan bahwa tingkat aktivitas dan potensi bahaya pada masing-masing gunung tidak dapat disamakan. Status gunung api ditetapkan berdasarkan hasil pemantauan terhadap aktivitas kegempaan, visual, deformasi, serta indikator vulkanik lainnya.

Gunung Ibu yang berada di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, menjadi salah satu gunung api yang mengalami erupsi pada Selasa malam.

Badan Geologi masih menetapkan aktivitas Gunung Ibu pada Level II (Waspada)

Gunung Ibu merupakan salah satu gunung api aktif yang terus dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Aktivitas erupsi pada gunung ini dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi bagian dari pemantauan vulkanologi secara intensif.

Masyarakat di sekitar kawasan Gunung Ibu diminta mengikuti rekomendasi resmi Badan Geologi dan tidak melakukan aktivitas di wilayah yang masuk zona berbahaya.

Di Nusa Tenggara Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki juga mengalami erupsi. Gunung yang berada di Kabupaten Flores Timur tersebut saat ini berstatus Level III (Siaga)

Status Siaga menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik berada pada tingkat yang lebih tinggi dan potensi bahaya perlu diantisipasi secara lebih serius.

Gunung Lewotobi Laki-laki memiliki sejarah aktivitas erupsi yang signifikan. Kajian Badan Geologi mencatat bahwa aktivitas gunung tersebut meningkat sejak akhir 2023 dan kemudian mengalami erupsi besar pada 2024 dan 2025. Erupsi 3 November 2024 bahkan menghasilkan lontaran material dan menyebabkan korban jiwa, sementara erupsi 20 Maret 2025 menghasilkan kolom erupsi tinggi dan menyebabkan dampak di sejumlah wilayah. (Jurnal Geosains Indonesia

Karakter aktivitas tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya kewaspadaan masyarakat di sekitar kawasan gunung.

Dalam kondisi Level III, masyarakat perlu memperhatikan batas wilayah yang ditetapkan sebagai daerah berbahaya. Aktivitas masyarakat, wisatawan, maupun pendaki tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan rekomendasi PVMBG.

Gunung Semeru di Jawa Timur juga tercatat mengalami erupsi pada malam yang sama.

Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut saat ini berada pada Level III (Siaga)

Pemantauan terhadap Semeru dilakukan secara berkelanjutan untuk mendeteksi perubahan aktivitas dan potensi bahaya. Masyarakat yang tinggal di sekitar daerah aliran sungai yang berhulu di Semeru juga perlu mewaspadai potensi aliran material vulkanik, terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Risiko erupsi tidak hanya berasal dari letusan yang terlihat dari kawah. Material vulkanik yang berada di lereng juga dapat terbawa air hujan dan menghasilkan lahar di sepanjang sungai yang berhulu di kawasan gunung.

Kemunculan erupsi dari tiga gunung api dalam waktu yang berdekatan memang menarik perhatian. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa ketiganya memiliki hubungan langsung atau sedang mengalami satu fenomena vulkanik yang sama

Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan memiliki banyak gunung api aktif. Aktivitas magma pada masing-masing gunung dipengaruhi oleh sistem vulkaniknya sendiri.

Karena itu, erupsi yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan perlu dilihat berdasarkan data masing-masing gunung, bukan semata-mata berdasarkan waktu kejadiannya.

Dalam pemantauan gunung api, Badan Geologi menggunakan berbagai indikator untuk menentukan tingkat aktivitas. Data kegempaan, perubahan visual, emisi gas, deformasi tubuh gunung, serta perkembangan aktivitas erupsi menjadi bagian penting dalam proses evaluasi.

Dengan pendekatan tersebut, status setiap gunung dapat berubah sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa status Level II (Waspada)Level III (Siaga)

Status tersebut merupakan indikator tingkat aktivitas dan potensi bahaya yang digunakan untuk menentukan langkah mitigasi.

Pada Level III, kewaspadaan masyarakat harus ditingkatkan dan aktivitas di wilayah yang telah ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana harus mengikuti rekomendasi resmi. Sementara itu, pada Level II, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan aktivitas gunung dan mematuhi batas-batas yang ditentukan oleh otoritas.

Informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung api sebaiknya diperoleh dari sumber resmi seperti Badan Geologi dan PVMBG, bukan dari potongan video atau informasi media sosial yang tidak jelas sumbernya.

Erupsi tiga gunung api dalam satu malam tentu dapat menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar gunung.

Namun, kepanikan justru dapat mengganggu proses mitigasi apabila masyarakat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi.

Yang paling penting adalah memahami status gunung, mengetahui wilayah yang masuk zona bahaya, mengikuti arahan pemerintah daerah dan petugas, serta mempersiapkan diri apabila terjadi peningkatan aktivitas.

Badan Geologi sendiri terus melakukan pemantauan terhadap gunung-gunung api aktif di Indonesia. Data pemantauan menjadi dasar dalam menentukan apakah status aktivitas perlu dipertahankan, dinaikkan, atau diturunkan.

Erupsi Gunung Ibu, Lewotobi Laki-laki, dan Semeru pada Selasa malam menjadi pengingat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan aktivitas vulkanik paling tinggi di dunia.

Meski ketiganya sama-sama mengalami erupsi, tingkat aktivitas dan ancaman masing-masing gunung berbeda. Gunung Ibu berada pada Level II (Waspada), sedangkan Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Semeru berada pada Level III (Siaga).

Perbedaan tersebut penting dipahami agar masyarakat tidak menyamaratakan kondisi ketiga gunung.

Bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan gunung api, informasi resmi dan rekomendasi petugas harus menjadi rujukan utama. Erupsi merupakan fenomena alam yang tidak dapat dihentikan, tetapi risiko terhadap manusia dapat dikurangi melalui pemantauan, kesiapsiagaan, dan kepatuhan terhadap zona bahaya.

Dengan aktivitas vulkanik yang masih berlangsung, perkembangan ketiga gunung tersebut perlu terus dipantau melalui informasi resmi Badan Geologi dan PVMBG.

Tag
Memuat tag...